Photobucket
Dengar dan Saksikan siaran saya di Web ini setiap hari pukul 10-12.Dalam acara Bisnis Global kami hadirkan info bisnis aktual, kisah sukses ,motivasi enterpreneur dan info inspiratif lainnya. Bila Anda ingin Menghubungi kami , kontak ke no HP 08123945684, Pin BB 74E96D53 Whatsapp : +6289654775541 Wechat : +6289654775541 FB : @bramwijayabali

Rabu, 24 November 2010

DASAR TEKNIK MENULIS KARYA JURNALISTIK

Oleh :Widminarko
KETIKA akan menulis karya jurnalistik, harus sudah tergambar dalam pikiran penulis, akan dikirim ke media massa mana tulisan itu. Hal itu mengingat, redaksi media massa cenderung lebih suka menerima karya jurnalistik yang siap muat, siap siar, atau siap tayang, sesuai dengan kebijakan redaksional media massa masing-masing. Selain itu mereka cenderung lebih suka menerima karya jurmalistik yang eksklusif, yang hanya dikirim ke media massa yang dikelolanya.

Karya jurnalistik untuk media pers (surat kabar, majalah) seyogianya tidak sama sajiannya dengan karya jurnalistik untuk media radio, dan berbeda untuk media televisi. Sajian di media pers untuk dibaca, sajian di radio untuk didengar, sajian di televisi untuk didengar dan dipandang atau ditonton/dipirsa.
Mengingat sifatnya yang audio-visual, sajian tertulis untuk media pandang-dengar/televisi seyogianya ditunjang gambar. Ada gambar yang bergerak, ada pula gambar yang tidak bergerak.
Gambar yang bergerak, misalnya film dan video, yang tidak bergerak misalnya foto, slide, grafik, peta. Sajian tertulis untuk media radio tidak perlu dilengkapi gambar, sedangkan sajian tertulis untuk media pers dapat dilengkapi gambar, yakni gambar yang tidak bergerak.
Penulis karya jurnalistik untuk media massa apa pun, wajib memahami teknik dasar penulisan karya jurnalistik. Pengetahuan dan keterampilan menulis Berita Langsung (straight news) di surat kabar adalah pengetahuan dan keterampilan
dasar yang harus dimiliki tiap wartawan dan penulis di media massa. Dengan memiliki pengetahuan dasar itu, mereka melangkah unjuk keterampilan menulis ragam karya jurnalistik lainnya, seperti berita ringan, berita kisah, artikel, kolom, tajuk rencana.
Penulis karya jurnalistik ragam apa pun wajib memiliki pemahaman, pengetahuan, dan keterampilan menulis Berita Langsung di surat kabar secara baik. Oleh karena itu, upaya memahami teknik penulisan Berita Langung di surat kabar,
merupakan langkah awal upaya untuk memiliki pengetahuan dan keterampilan menulis karya jurnalistik umumnya.
Tiga unsur mendasar yang harus diperhatikan dalam menulis Berita Langsung adalah unsur Materi/Isi, unsur Teknik Penyajian, dan unsur Bahasa.
2.

II
RAGAM FAKTA DAN RAGAM BERITA

Ragam Fakta
Sesuai namanya, news paper, sajian utama surat kabar adalah news (berita). Namun, dalam kenyataan dan perkembangannya, pembaca tidak puas hanya membaca berita. Oleh karenanya surat kabar juga menyajikan karya jurnalistik nonberita, seperti artikel, kolom, tajuk rencana, foto. Bahkan ada surat kabar yang juga menyajikan karya nonjurnalistik, seperti cerita pendek, puisi, dan cerita bergambar.
Mengingat beragamnya selera dan kadar apresiasi pembaca, kehadiran sajian-sajian penunjang semacam itu terasa perlu dan penting. Oleh karena itu seberapa jauh penyajiannya, selalu menjadi bahan pertimbangan para pimpinan media massa pers, dalam upayanya mempertahankan keterikatan dan kesetiaan pembaca terhadap media massa yang dipimpinnya.
Iklan, yang semula berperan sebagai unsur penunjang, kehadirannya kini telah menjadi unsur penentu bagi sehat-tidaknya kehidupan surat kabar dan media massa umumnya.
Mengupayakan terwujudnya kehidupan media massa pers yang sehat, tidak cukup hanya mengandalkan faktor keterampilan wartawan; juga bukan hanya ditentukan faktor apiknya manajemen penerbit dan faktor canggihnya teknologi grafika/cetak. Akan tetapi, sehat-tidaknya kehidupan media massa pers, juga ditentukan faktor pendapatannya dari sektor iklan.
Selaras dengan perkembangan kegiatan dan kehidupan manusia yang makin mendunia di semua lini, iklan diterima pembaca, pendengar atau pemirsa, bukan hanya sebagai sarana promosi, tetapi juga sebagai sumber informasi; bahkan juga ditempatkan sebagai sarana pendidikan dan hiburan.
Sementara itu berita sebagai bentuk karya jurnalistik surat kabar, juga telah bervariasi jenis dan ragamnya. Hal itu mengingat, pembaca tidak puas hanya membaca berita yang menyajikan fakta-fakta primer. Mereka juga ingin membaca berita yang mengungkapkan fakta-fakta sekunder, dan yang diperkaya fakta-fakta tersier.
Materi karya jurnalistik tidak cukup faktual, ada faktanya, tetapi fakta itu juga harus hangat, bukan fakta yang basi. Bahkan lebih dari itu tuntutan pembaca, fakta itu tidak cukup hanya hangat. Materi karya jurnalistik juga harus mampu memberikan nilai tambah buat mereka. Itu berarti, sebuah karya jurnalistik, bukan hanya dituntut menyajikan informasi, tetapi juga mampu berperan sebagai sumber inspirasi, dan memacu daya kreasi pembaca, pendengar, dan pemirsa media massa.

3.

Wartawan dan penulis di media massa pers harus mampu menyelaraskan dirinya dengan tuntutan dan kebutuhan manusia di segala bidang kegiatan dan kehidupan. Tuntutan dan kebutuhan itu ditandai fenomena bahwa informasi diakui dan ditempatkan sebagai salah satu sumber daya, sebagaimana sumber daya manusia, sumber daya alam, dan sumber daya finansial. Sebagaimana sumber daya lainnya, sumber daya informasi juga berfungsi dan berperan sebagai alas berpijak dan sarana manusia untuk meningkatkan kualitas diri dan kemajuan dalam kiprah kehidupan dan kegiatannya, sesuai dengan pekerjaan dan profesinya.
Fakta primer adalah fakta di permukaan yang segera dapat disentuh pancaindera dan segera disadari adanya. Fakta sekunder adalah fakta yang bersembunyi, digali dan tergali di balik fakta primer; baru disadari sebagai fakta berkat kejelian, kreativitas dan sense of news wartawan. Fakta tersier adalah fakta lama, mungkin terjadi belasan atau puluhan tahun yang lalu, tetapi tetap menarik diungkapkan kembali sekarang, karena faktanya memiliki keterkaitan erat dengan permasalahan atau isu hangat yang sedang berkembang sekarang. Fakta lama yang dihangatkan kembali ini dapat menjadi pelengkap wartawan dalam upayanya memperkaya materi karya jurnalistiknya.

Ragam Berita
Pekerjaan jurnalistik pada dasarnya merupakan proses atau teknik mengelola fakta, mulai dari tahap mencari, menggali, dan mendapatkannya, kemudian menyaring, mengolah, dan menyusunnya, sampai pada tahap mengarahkan opini dan memublikasikannya lewat media massa. Unsur utama karya jurnalistik adalah fakta, publikasi, dan media massa.
Pengertian mendasar tentang jurnalistik ini melahirkan banyak definisi tentang berita. Bagaimana pengelola media massa memberi makna pada berita, tergantung persepsi mereka yang biasanya persepsi itu terumuskan dalam kebijakan redaksionalnya.
Secara umum dapat dikatakan, berita adalah fakta yang dilaporkan atau dipublikasikan lewat media massa. Namun, dalam kenyataannya tidak semua fakta dianggap penting, dianggap menarik, atau dianggap patut, oleh wartawan untuk dilaporkan atau dipublikasikan lewat media massa.
Bukan mustahil ada pengelola media massa yang bersedia memublikasikan fakta apa saja asalkan untuk itu tersedia "beaya produksi"-nya. Ada pula pengelola media massa yang bukan hanya memublikasikan fakta sekadar fakta. Akan tetapi, fakta yang dipublikasikan itu diutamakan fakta yang menjadi bagian atau yang terkait erat dengan permasalahan yang sedang dihadapi masyarakat pembaca, pendengar, dan pemirsanya.

4.

Jelas, bahwa persepsi yang terefleksi dalam kebijakaan redaksional suatu media massa akan menentukan corak dan ciri pemberitaan di media massa yang bersangkutan.
Fakta boleh berupa masalah, kejadian, boleh juga berupa pernyataan atau kutipan pendapat orang dan kutipan dari sumber referensi, serta opini yang berkembang di masyarakat. Pendapat yang berkembang di masyarakat dapat dikategorikan opini apabila mengandung unsur sesuatu yang baru, bersifat kontroversial, dan diyakini benar-benar pendapat itu didukung sebagian besar publik, bukan ”karangan wartawan”.
Berita yang materinya mengutamakan fakta primer, disebut Berita Langsung (hard news atau straight news). Berita tentang suatu kejadian, misalnya, yang faktanya dapat segera disentuh atau ditangkap pancaindera – yang terlihat, terdengar, terbau, teraba, dan terkecap - tergolong ragam Berita Langsung.
Dalam perkembangannya, pembaca media massa pers tidak selalu puas membaca Berita Langsung yang isinya hanya lapisan permukaan dari suatu kejadian. Mereka juga ingin membaca Berita Langsung yang menyajikan fakta primer yang bersifat menjelaskan (explanatory), hasil tafsiran (interpretative), hasil pemeriksaan atau pengusutan (investigative), dan secara mendalam (in-depth). Namun, wartawan tidak perlu memanjang-manjangkan sajian suatu fakta jika sebenarnya fakta itu cukup disajikan secara singkat. Oleh karena itu ada media massa yang juga menyajikan berita singkat (brief news) dan berita foto.
Fakta yang bersifat menjelaskan menuntut fakta tambahan. Fakta tambahan dapat berupa hasil wawancara dengan, atau hasil permintaan konfirmasi dari manusia sumber yang terkait dan yang berkompeten, serta kutipan dari suatu sumber referensi yang terkait dengan faktanya. Dengan begitu, sajian Berita Langsung itu menjadi lebih komprehensif, menjelaskan topik utama lebih mendalam.
Dari aspek isi dan penyajiannya, Berita Langsung dapat dikembangkan dalam bentuk interpretative news, apabila dalam penyajian berita tersebut ada unsur interpretasinya. Oleh karena sifatnya interpretatif, terasa ada opini wartawan penulisnya yang masuk. Namun, opini tersebut masuk secara halus, yang sering disebut fact and idea, fakta dan gagasan. Interpretative news dalam berita olahraga, misalnya, terasa secara halus masuknya opini wartawan saat ia melukiskan suasana peristiwa/kegiatan olahraga yang ditulisnya.
Berita Langsung juga dapat dikembangkan dalam bentuk investigative news, apabila fakta yang dilaporkan, digali melalui penelusuran dan penelitian. Bukan hanya objek dan subjek berita, tetapi disajikan pula latar belakangnya, keterkaitan antara fakta yang satu dan fakta lainnya. Investigative news dalam berita kriminal, misalnya, dapat memberi informasi tambahan kepada pihak

5.

kepolisian dalam upayanya mengungkap siapa pelaku, atau apa motivasinya, suatu kasus kriminal.
Berita Langsung yang disajikan secara mendalam dan mendetail, disebut in-depth news. Oleh karena sifatnya yang mendalam dan mendetail, in-depth news dapat juga disajikan secara berseri.
Dalam penulisan karya jurnalistik mutakhir, penyajian fakta primer, sekunder dan tersier itu berbaur, saling melengkapi. Apalagi, jika laporan tersebut bersifat mendalam dan mendetail. Betapa terasa kering sebuah laporan jurnalistik, jika hanya mengandalkan fakta-fakta telanjang, fakta-fakta primer. Dalam kaitan ini terasa pentingnya tiap wartawan dan penulis media massa umumnya memiliki dokumentasi data dan beragam sumber referensi.
Penyajian fakta primer secara telanjang dan secara singkat dapat dijumpai dalam Berita Singkat (brief news). Sedangkan berita berupa foto saja yang disertai keterangan foto, sering disebut Berita Foto.
Dalam Berita Langsung, masuknya opini wartawan tidak boleh kebablasan. Biasanya opini itu secara halus terasa masuk saat wartawan melukiskan suatu suasana kejadian. Tercela bagi seorang wartawan yang melakukan praktik pemelintiran fakta yakni memasukkan pendapat pribadinya seolah-olah pendapat itu adalah pendapat narasumbernya. Wartawan perlu menjaga jarak, mana fakta dan mana opini. Jika ingin memasukkan opini pribadi sepuas hati dalam karya jurnalistik, tulislah Artikel, bukan dalam Berita Langsung. Opini juga dapat masuk secara leluasa dalam penulisan Tajuk Rencana atau Editorial; opini tersebut merupakan opini penerbit/redaksi media massa pers yang bersangkutan.
Salah satu ciri karya jurnalistik ragam Artikel adalah masuknya pendapat dan pendirian penulis ke dalamnya. Pendapat dan pendirian itu ditulis secara komprehensif, berdasarkan studi literatur atau hasil observasi, atau rangkuman pendapat tentang masalah yang dijadikan tema atau topik tulisan, dan disertai pemecahannya sebagai hasil pemikiran yang mendalam.
Ragam Artikel meliputi Artikel Feature, Artikel Penyuluhan, Artikel Opini, Kolom, dan Tajuk Rencana.
Dalam Tajuk Rencana, pendapat dan pendirian penulis yang masuk ke dalamnya merupakan refleksi pendapat dan pendirian penerbit atau redaksi media massa yang bersangkutan; bukan opini pribadi, tetapi opini institusi.
Dari aspek ragamnya, selain Berita Langsung, juga dikenal Berita Ringan (soft news) dan Berita Kisah (feature). Dalam kedua ragam jurnalistik ini wartawan tidak cukup melaporkan fakta-fakta yang ada di lapisan permukaan dari suatu kejadian atau suatu permasalahan, yang langsung dapat ditangkap pancaindera. Ia menggali fakta-fakta sekunder di balik fakta primer itu. Di situ terbuka untuk ia temukan fakta-fakta eksklusif, yang mungkin tidak ditemukan wartawan lain, atau fakta-fakta yang kental nilai human interest-nya.
6.

Pengertian "ringan" dalam ragam Berita Ringan bukan berarti tidak berbobot; tetap berbobot, tetapi fakta yang diutamakan atau ditonjolkan dalam sajian Berita Ringan adalah fakta-fakta yang tergali di balik fakta primer, yakni fakta sekunder. Dalam penggalian fakta sekunder ini diperlukan wartawan yang memiliki "indera keenam", dalam pengertian memiliki kejelian dan kreativitas, memiliki sens of news.
Apabila Berita Ringan ini dikembangkan, dengan menekankan pada isinya unsur santai dan mengedepankan secara kental warna human interest, dapat menjadi ragam Berita Kisah. Jika Berita Langsung dan Berita Ringan lebih bertujuan "melaporkan fakta" atau "mengabarkan berita", Berita Kisah lebih "menerangkan fakta", yang mungkin sekali fakta itu sudah menjadi pengetahuan umum pembaca; ragam penulisannya "teknik mengisahkan sebuah cerita"; melukis gambar dengan kata-kata, menghidupkan imajinasi pembaca, pendengar atau pemirsa, menarik mereka agar masuk ke dalam cerita itu dengan membantunya mengidentifikasikan diri dengan tokoh utama. Namun, harus tetap diingat, materi Berita Kisah tetap mengacu pada fakta; harus faktual, bukan imajiner; tetap nonfiktif bukan fiktif. Walaupun sering disebut sebagai “cerita pendek”-nya karya jurnalistik, namun Berita Kisah tetap karya jurnalistik, bukan karya sastra. Karya sastra dapat menampilkan fakta imijinatif, fiktif.
Berbeda dengan in-depth news yang penyajiannya dapat dilakukan secara berseri, maka Berita Kisah, Berita Ringan, maupun Berita Langsung umumnya, disajikan sekali selesai.
Berita Kisah (Feature) menurut isinya meliputi Feature Berita, Feature Artikel, Feature Biografi, Feature Ilmiah, Feature Perjalanan, dan Feature Sejarah.
Fakta primer sering termakan lebih dahulu oleh surat kabar harian, televisi atau radio, karena sifatnya yang harus segera diketahui pembaca, pemirsa, dan pendengar. Oleh karenanya, wartawan majalah mingguan, apalagi setengah bulanan dan bulanan, lebih mengosentrasikan perhatiannya pada penulisan Berita Ringan dan Berita Kisah, yang isinya tidak gampang basi ditelan waktu.
Wartawan dapat menjadikan Berita Langsung yang dimuat surat kabar harian - yang berarti informasinya sudah menjadi pengetahuan umum pembaca - sebagai pijakan dan sumber inpsirasi untuk mengembangkan informasimya dalam ragam Berita Ringan atau Berita Kisah, bahkan dalam Atikel.
Apabila Berita Langsung mengutamakan laporan yang dianggap penting oleh pembaca untuk segera diketahui, Berita Ringan mengutamakan laporan yang dianggap menarik. Oleh karenanya, Berita Langsung sering mengutamakan jawaban atas pertanyaan what (apa) atau who (siapa), sedangkan Berita Ringan dapat saja mengutamakan jawaban atas pertanyaan unsur 4 W lainnya, yakni

7.

why (mengapa), where (di mana), when (kapan) atau how (bagaimana), selain unsur what dan who.



1 komentar:

Akoey mengatakan...

Jurnalistik, itu sebetulnya cita-citaku sejak kecil. tapi ga tau nih ga kesampaian. :(

aku suka sama tulisannya, boleh save ya..?
ohya, mkasih, td dah mampir.

 
Powered by Blogger