Photobucket
Dengar dan Saksikan siaran saya di Web ini setiap hari pukul 10-12.Dalam acara Bisnis Global kami hadirkan info bisnis aktual, kisah sukses ,motivasi enterpreneur dan info inspiratif lainnya. Bila Anda ingin Menghubungi kami , kontak ke no HP 08123945684, Pin BB 74E96D53 Whatsapp : +6289654775541 Wechat : +6289654775541 FB : @bramwijayabali

Selasa, 29 September 2009

Tabrakan Suara

Problematika sebuah wawancara TV dan Radio masih menjadi daya tarik untuk dianalisa karena semakin hari ilmu tentang wawancara semakin berkembang dan menarik untuk dipraktekan bagi penyiarnya. Pengalaman penyiar lain adalah guru terbaik.Problem kecil namun sangat mengganggu seperti tabrakan suara perlu di analisa secara khusus

Dengarkan Hatinurani Pemirsa
Disalah satu TV swasta sebuah wawancara pro kontra Perpu membuat daya tarik. karena isunya memang pas dan yang diwawancarai memang berkompeten atau ahli dibidangnya. Namun satu hal yang membuat wawancara itu menjadi pro kontra bukan pro kontra masalah perpu tapi pro kontra dikalangan teman-teman penyiar sendiri yaitu dua narasumber memperlihatkan egonya ingin mendominasi pembicaraan sehingga praktis terjadilah tabrakan suara yang panjang dan terulang-ulang .
Memintai pendapat pemirsa lebih pas daripada memintai pendapat penyiar atau programmer . Karena sedari dulu memang penyiar harus belajar menjadi pemirsa . Menyingkap hati nurani pemirsa akan membuat kita sebagai penyiar disuka dan acarapun akan disuka.
Di sebuah warung yang memasang TV dan kebetulan yang di tonton adalah wawancara Pro Kontra Perpu .Ternyata tiga orang ikut tegang dan yang lainnya menggerutu dengan mengatakan apa-apa-an ini ! nggak karu-karuan nafsuan banget . Bisa jadi gerutuan 3 orang pemirsa ini mewakili ribuan penonton lain.
Setelah kita amati wawancara Pro kontra perpu KPK itu ternyata menimbulkan ketidaknyamanan pemirsa yaitu dua orang narasumber itu saling berebut bicara saling menyela dan akhirnya yang terjadi dua suara narasumber itu menurut istilah saya “tabrakan di udara” secara berkepanjangan dan terulang-ulang .
Penyiar itu raja mainkanlah secara profesional
Sang penyiar yang seharusnya menjadi pengatur sebuah wawancara belum mampu mengatur agar wawancara itu nyaman . Praktis wawancara tersebut hanya memperlihatkan ketegangan saja bukan menemukan wawasan baru yang masuk kebenak pemirsa . Padahal kita dengar Penyiar tersebut mampu bertanya dengan bobot pertanyaan yang begitu luar biasa namun sayang menjadi kabur terganggu oleh suara narasumber yang lain yang berebut bersuara dan akhirnya tabrakan diudara dan lucunya dibiarkan oleh penyiarnya .
Fungsi penyiar yang punya kuasa penuh untuk mengatur jalannya wawancara tidak diperlihatkan entah lupa ,ataukah sengaja menjual ketegangan tanpa makna ?,atau karena ketidak tahuan saja.
Benar-benar sayang sebuah pertanyaan yang berbobot dijawab nafsu bicara narasumber kesimpulannya pemirsa hanya diberi suguhan ketegangan,gerutuan,tanpa kesimpulan dan tanpa memberi proses pembelajaran bagi yang menonton.
Ketegangan Yang Punya Nilai
Sebagai seorang penyiar menciptakan ketegangan dalam sebuah wawancara itu perlu dan wajar untuk memainkan emosi pemirsa agar wawancara punya nilai plus dan pemirsa tidak beranjak . Tapi menciptakan emosi pemirsanya juga harus punya nilai dan ada manfaatnya yaitu : Memainkan emosi dan Membuka wawasan pemirsanya
harus diatur agar suara narasumber tidak tabrakan diudara sehingga pemirsa benar-benar akan melihat siapa nara sumber yang pintar dan penjelasannya bisa membuka wawasan pemirsa .Pemirsa akan melihat siapa narasumber yang sabar dan tegas dalam bicara , juga pemirsa akan melihat siapa narasumber yang lemah dan tidak masuk akal dalam bicara .
Mungkin penyiar bisa menyela dengan mengatakan umpamanya …Maaf kita beri kesempatan pada untuk bicara. Nah kalau berkali diperingatakan ternyata masih main tabrak akhirnya terjadilah kesimpulan wawancara ini menarik karena sudah mampu mengungkap sifat-sifat asli narasumber. Dan penyiarpun sudah berusaha dan bekerja profesional. (Bram Wijaya)






0 komentar:

 
Powered by Blogger