Photobucket
Dengar dan Saksikan siaran saya di Web ini setiap hari pukul 10-12.Dalam acara Bisnis Global kami hadirkan info bisnis aktual, kisah sukses ,motivasi enterpreneur dan info inspiratif lainnya. Bila Anda ingin Menghubungi kami , kontak ke no HP 08123945684, Pin BB 74E96D53 Whatsapp : +6289654775541 Wechat : +6289654775541 FB : @bramwijayabali

Senin, 09 Maret 2009

WAWANCARA DENGAN KALIMAT SINGKAT

Selama 2 tahun yaitu 2003-2005 saya sempat menggunakan transportasi Bus antar kota di lintasan Denpasar Gilimanuk untuk menuju studio siaran . Maklum Radio tempat kerja saya memang ada di kilometer 27 perjalanan yang cukup panjang menurut ukuran saya di Bali . Lintasan ini benar-benar lintasan bersejarah bagi saya . Untuk menuju Radio tempat saya kerja memakan waktu 45 menit dan selama itu pula saya merasakan banyaknya informasi dan ilmu-ilmu yang saya dapatkan selama dalam perjalanan . Ilmu-ilmu itu terkadang harus saya terapkan di dunia siaran , lho kok bisa ? .

Kalau tape recorder punya daya rekam suatu suara maka otak dan pikiran kita juga mampu merekam peristiwa . inilah yang sebenarnya senjatanya para penulis handal dia mampu menulis dengan menterjemahkan apa yang ia rekam melalui pikirannya ke tulisan. Saya pikir penyiar jaman sekarang harus seperti itu .

Ketika saya pulang dan menunggu Bus didepan studio ,tiba-tiba ada bus yang tanpa saya saya kasih tanda awe-awe dia berhenti sendiri . Dan sang kernet rupanya hapal betul dengan wajah saya sebagai penganut “aliran Bus”( penumpang setia Bus ) sang kernet teriak-teriak ayo Mas sini ke Ubung !! sambil tersenyum,

Kernet bus di Bali memang murah senyum walaupun kelihatan urakan .Mungkin saja dia tahu caranya memberikan service pada penumpanya.

Ketika saya baru saja menginjakan kaki di lantai Bus kernet yang tidak saya ketahui namanya ini mengeluarkan pertanyaan dengan bahasa Bali yang terjemahannya seperti ini .

Mas kerja di pemancar radio sini ya (dia menyebut stasiun radio dengan pemancar radio) …betul, bapak kok tahu ? jawab saya

Ya tahu dong mas bapak sering turun dimuka pemancar radio itu …Oooo.begitu

Jadi apa disana mas ..,Jadi penyiar pak

Enak jadi penyiar ya Mas…. Ya begitulah pak enak

Kalau jadi penyiar Pasti mas ini banyak temannya… Yah apapun profesinya harus punya teman banyak teman seperti bapak walaupun kernet harus punay prinsip banyak teman .

Radio itu penghasilannya dari apa mas …(pertanyaan ini mengelitik saya akhirnya saya balik nanya ) kalau menurut sepengetahuan pak dari mana ?

Katanya penghasilan radio dari penjualan kupon pilpen mas.. (pilpen adalah acara pilihan pendengar yang umum dilakukan radio jaman dodol di Bali ) sistim kupon sudah nggak ada lagi di terapkan radio di Bali pak itu radio jaman dulu . Lagi pula sekarang ini orang sudah pakai SMS untuk pengganti kupon atau surat menyurat .Sekarang penghasilan radio dari iklan sama dengan koran dan Tv

Gimana mas jadi penyiar banyak gajinya ya (pertanyaan ini yang bikin kelabakan agak lama saya baru mengeluarkan jawaban akhirnya jawaban saya mencoba mengalihkan ) kalau banyak kenapa kalau sedikit kenapa pak ?

Ya sekedar tahu saja … Lho memangnya kalau banyak bapak mau alih profesi jadi penyiar ha ha ha ..

Kira-kira ada nggak 500 ribu ya ( pertanyaan ini bikin saya lama lagi menjawabnya saya berkelit ) ee begini radio nggak ada punya patokan yang pasti karena kondisi radio beda –beda ada yang gajinya tinggi ada yang dibawah standard ya tergantung radio dan penyiarnya.

Pertanyaan ini terhenti karena sang kernet harus melayani penumpang lain yang naik.
Sayapun lega nggak ditanya macam-macam lagi . Ternyata jadi narasumber itu sulit ya .biasanya saya kerjanya di radio wawancarai orang sekarang diwawancarai. Oleh kernet lagi .

Setelah percakapan dengan kernet Bus Manis ini saya merenung dalam hati. “TERNYATA BERTANYA DENGAN KALIMAT SINGKAT ITU ASYIK DAN BERHASIL” sang kernet secara tidak ia sadari sudah mengajarkan saya tentang kalimat singkat dalam wawancara yang cukup membuat saya kelabakan .Sang sopir mewawancarai dengan bahasa yang polos

Dan hikmah yang keberikutnya masyarakat bawah tahunya radio itu imagenya pilihan pendengar atau pilpen, padahal radio sekarang itu udah luar biasa dahsyat siarannya ada yang pakai satelit bisa wawancarai menteri, reporternya betebaran kesana kemari ,kecepatan berita bisa ngalahin media TV

Saya sudah dapat kepastian tentang kedahsyatan kalimat singkat dalam wawancara . Sebab saya punya pengalaman bertanya dengan kalimat yang muter –muter kesanakemari akhirnya narasumber hanya mendengarkan kalimat terakhir padahal kalimatnya yang penting untuk dijawab adalah yang pertama . Inilah kesalahan yang sering dilakukan penyiar Radio dan TV . Dengan maksud tidak tidak “mengharamkan “ kalimat yang muter-muter sebenarnya kalau narasumbernya daya ingat dan daya jangkaunya kuat boleh-boleh saja . Dan lagi pula ketika kita siaran bukankah konsumsi acara itu yang “melahap” adalah pemirsa yang ingin mencari fakta .

Inilah gaya kalimat panjang yang sering dilakukan saat wawancara :

“ Apa solusi yang anda bisa jalankan pada problem ini ,sebab seperti kita ketahui masyarakat sudah mulai enggan berkomunikasi dengan pihak terkait. Bukankah ini tanda-tanda kepercayaan masyarakat pada institusi anda sudah turun ?. .”
Jawaban narasumber : Saya yakin masyarakat masih mempercayai intitusi kita…..

Seharusnya pertanyaan itu dipecah menjadi : 1. apa solusi yang anda tawarkan 2 benarkah masyarakat enggan berkomunikasi dengan pihak terkat. 3 Apakah ini tanda-tanda kepercayaan masyarakat sudah turun pada institusi bapak.




0 komentar:

 
Powered by Blogger