Photobucket
Dengar dan Saksikan siaran saya di Web ini setiap hari pukul 10-12.Dalam acara Bisnis Global kami hadirkan info bisnis aktual, kisah sukses ,motivasi enterpreneur dan info inspiratif lainnya. Bila Anda ingin Menghubungi kami , kontak ke no HP 08123945684, Pin BB 74E96D53 Whatsapp : +6289654775541 Wechat : +6289654775541 FB : @bramwijayabali

Jumat, 22 Agustus 2008

PRESENTER HARUS BELAJAR JADI PEMIRSA

Orang nonton sebuah wawancara TV atau dengar wawancara Radio sebenarnya sama dengan nonton bola, penonton bola itu lebih pintar dari pemainnya . Begitu pula ketika wawancara TV atau Radio .Penonton dan pendengar radio juga cenderung pintar walaupun terkadang penilaiannnya tidak masuk akal. Suatu ketika seorang penonton Tv ngedumel aduh ! saya tanya kenapa pak ngaduh ia menjawab itu lho penyiarnya motong-motong jawaban narasumber

Kasus lain Pernah suatu ketika ada wawancara pengobatan Reiki Tummo di salah satu TV , Presenternya lebih banyak meng CUT sebuah jawaban dan melanjutkan dengan pertanyaan berikutnya , (sepertinya presenter ini tidak punya budaya dengar dan ingin memperlihatkan seolah-olah dirinya pintar bawa acara ) maka tak ayal lagi ketika sesi interaktif dimulai ketika diudara pemirsanya malah menceramahi presenter bersangkutan bukannya tanya pada narasumber , lalu apa isi dari ceramah supersingkat itu isinya kurang lebih begini . “…..sebelum saya bertanya pada nara sumber terlebih dahulu saya beri saran agar saudara X sebagai presenter agar belajarlah dahulu menjadi pemirsa sebelum anda jadi presenter sebab banyak jawaban dari narasumber yang sangat berarti buat saya sebagai pemirsa saudara CUT begitu saja…pertanyaan saya mohon diulang jawaban tentang syarat sebelum diobati yang tadi sempat di cut terimakasih.” (nah untung TV nya berwarna jadi bisa lihat wajah preswan merah mukanya )


Memang problem terbesar dari seorang presenter ketika wawancara tidak mengontrol posisinya yaitu UNTUK MEMBERIKAN SESUATU YANG BELUM JELAS MENJADI JELAS itu adalah kalimat sederhana yang harus dikantongi setiap presenter dalam wawancara. Jadi kapan saatnya kita meng CUT atau membiarkan sesuatu tanpa CUT . Hal seperti ini memang sangat jarang diajarkan dalam sebuah pelatihan. Disnilah perlunya “jam terbang” . Tapi “jam terbang” yang tinggi juga terkadang masih terlihat “lupa diri “ pada posisinya atau kinerjanya saat diudara. Saya nilai ada beberapa faktor penyebab.

Pernah saya ditanya oleh peserta pelatihan yang tertarik dengan urusan cut meng cut setir menyetir narasumber . Kenapa saya lihat masih ada presenter senior yang tega-teganya meng-cut sebuah opini atau jawaban yang saya anggap baik. Nah pertanyaan capres (calon presenter ) ini saya pikir mewakili perasaan pemirsa juga . Lalu saya balik tanya sama capres tadi acara itu durasinya berapa menit dan apakah live ? ia menjawab satu jam dan live . Kalau satu jam saya anggap terlalu lapang jadi preswan tidak perlu terburu nafsu tetapi tetap pegang kendali agar upaya mengungkap fakta terungkap. Sebagai presenter kita juga harus punya budaya sabar tapi tegas tidak ragu-ragu (nah lho susah diterjemahkan )

Memang dalam sebuah wawancara kita harus punya perasaan TEGA-AN untuk sebuah wawancara yang yang bila durasinya umpamanya 5 menit karena dalam dunia TV dan Radio (radio berita) satu detik sangat berarti . Maka ketika narasumber menjawab dalam poin-poin yang kita anggap cukup ya jelas PRESWAN (presenter wawancara) nggak usah mengcut dan membelokan dengan pertanyaan baru. Tapi

Presnter memang harus tega mengcut tapi tetap pertahankan agar cara kita mengcut tidak membuat pemirsa mencak-mencak. Mencak-mencaknya pemirsa tentu tidak bisa didengar preswan . Permasalahannya adalah dalam acara berdurasi SEMPIT ketika preswan memberikan pertanyaan yang sebenarnya SESUATU YANG DINANTI pemirsa lalu di cut oleh PRESWAN bagi saya itu adalah “kecelakaan” .. Lalu apa solusinya dalam kondisi seperti ini ? Kalau preswan itu saat on the air sadar kesalahannya maka ia harus cepat putar haluan dan kembali tanya sesuatu ang belum tuntas tadi ini akan lebih baik dari pada durasinya habis pemirsa tidak disuguhi jawaban pasti akan suatu permasalahan . Maka tidak heran bila soorang yang berstatus preswan dia selalu setiap habis siaran dievaluasi walaupun dia pangkatnya presen (presenter senior).


Dalam soal cut meng cut selalu diperbincangkan oleh sesama presenter dan ini sangat menarik untuk jadi sebuah thema diskusi untuk dicarikan solusinya . Seorang presenter senior secara psikologis terbebani dengan perasaan saya presen (presenter senior ) dan cukup terkenal harus tampil terbaik .ketika beban bergelayut maka ia ingin memperlihatkan kehebatannya tapi dia lupa bahwa siaran dengan membawa beban keterkenalan dipikirannya itu tidak enjoy . Dalam bahasa meditasi beban itu membuat kita tidak rileks masih berjalannya ego dipikiran membuat tidak santai dan rileks . Sebaiknya PRESJUN atau PRESEN harus punya rasa enjoy dan rileks menurut para ahli rasa enjoy dan rileks akan menimbulkan intuisi dadakan yang muncul yang bermanfaat dari sisi ide akan muncul mulus tanpa kendala. Tapi yakinlah saat presen lakukan kesalahan dan ia perlihatkan egonya dan saat ia lakukan kesalahan ia akan berpikir keras sampai dia pulang kerumah dan tidak bisa tidur.

Ketika saya memandu acara interaktif di Radio Global FM Bali setelah acara usai Hp saya bunyi dan saya angkat isinya seorang pendengar sebut namanya P meminta agar pendengar yang namanya “J” di cut saja opininya , alasannya mungkin bagi saya sederhana tapi bagi si P sangat luar. Masalahnya pendengar namanya J ini mengkriktik calon gubernur jagonya si P . Itu adalah contoh sederhana Radio punya kedekatan dengan penyiarnya sehingga penyiar dianggap sahabatnya dan sekaligus orang yang bisa disuruh-suruh . Pemirsa itu macam-macam sifatnya ada yang suka intervensi ada juga yang nrimo jangan lupa pemirsa itu banyak yang pintar . Pernah juga saya ditelpon oleh pendengar dia ini hanya ingin mengucapkan terima kasih bahwa pertanyaan saya saat mengudara tidak bisa dijawab oleh narasumber. Tapi sampai sekarangsaya nggak tahu apa yang membuat di bahagia yah kita memang harus belajar jadi pemirsa . Saya pernah wawancarai seorang pemirsa dan saya udarakan pemikirannya tentang apa yang dia sukai pada acara interaktif radio . Dia mengatakan setiap acara interaktif apapun yang penting bikin wawasan berpikirnya terbuka dan hasilnya menjadi pencerahan bagi yang mendengarnya . Jadi kalau diterjemahkan secara singkat MEMBUAT PEMIRSANYA DARI TIDAK TAHU MENJADI TAHU .



Oleh : Bram wijaya



Daftar Singkatan ala Bram :
PRESJUN :Presenter junior
PRESEN : Presenter Senior
PRESWAN : Presenter Wawancara
CAPRES : Calon Presenter



0 komentar:

 
Powered by Blogger