Photobucket
Dengar dan Saksikan siaran saya di Web ini setiap hari pukul 10-12.Dalam acara Bisnis Global kami hadirkan info bisnis aktual, kisah sukses ,motivasi enterpreneur dan info inspiratif lainnya. Bila Anda ingin Menghubungi kami , kontak ke no HP 08123945684, Pin BB 74E96D53 Whatsapp : +6289654775541 Wechat : +6289654775541 FB : @bramwijayabali

Minggu, 24 Agustus 2008

JANGAN JADI PENYIAR SGA

Mungkin kita berkali-kali mendapatkan sebuah pelatihan tentang tehnik wawancara dan jurnalistik Radio dan TV tapi yang terjadi kita hanya mendapatkan tehnik itu masih sebatas dimengerti tapi susah mempraktekan. Teori-teori yang kita dapat itu sungguh luar biasa bagus tapi dalam tataran praktek belum tentu bisa diterapkan .dan terkadang seseorang yang hanya mengandalkan belajar dengan sistim outodidak berhasil menjadi sorang jurnalis yang baik. Kata orang tua jaman dulu tergantung orangnya sih dan tergantung cetakannya kalee

. Terkadang pelatihan tadi ia dapatkan dengan cara terpaksa yaitu diwajibkan oleh perusahaan dan motivasi untuk maju NOL . Padahal biaya untuk mengirimkan SDM ini berbiaya tinggi . Efeknya bisa dilihat SDM senior ada yang masih ajeg segitu-gitu aja (SGA) . Jangankan untuk pendekatan tehnologi untuk menerima input baru yang disebut ilmu rasanya kepalanya nggak muat. Saya amanat ada sesoarng yang gelisah ketika training dimulai ia ngobrol dengan teman sebangku ,ada yang memlih duduk dipojok bagian belakang .
Disisi lain ada yang bahagia mendapatkan kesempatan training dari perusahaan seperti mendapatkan kenaikan pangkat , kebahagiaan luar biasa .Ilmu saat pelatihan “dilahap habis” . Bahkan saya lihat disesi istirahat makan ia selalu mendekati sang pelatih tanya macam-macam.

Ada suatu kebiasaan yang pasti bukan rahasia lagi . Kalau ada training ke luar daerah pikirannya yang nomor satu adalah uang sangunya dan kesempatan untuk jalan-jalan. Jadi apa bedanya dengan anggota DPR ya . Kita memang nggak usah munafik dengan hal yang kayak gini namun kita harus punya pikiran ketika pulang saya harus menghargai profesianlisme kita dan tanggung jawab pada profesi kita . Jadi jalan tengahnya ,jalan-jalan jadi profesionalisme jadi nambah .

Ada satu kebiasaan dari kita di Radio ketika pulang dari pelatihan ,yang dikirim ke pelatihan pulangnya harus bawa oleh-oleh berupa presentasikan dihadapan team work. Dan dalam presentase ini tentu kita musyawarahkan . Kalau ada materi pelatihan berupa CD maka CD harsu diperbanyak dan dibagi > Bial dikasih buku bukunya terpajang dipusataka Radio . Lalu kira-kira ilmu baru ini apa bisa diterapkan apa kendalanya semua dihitung bareng , berapa bulan kiranya target perubahan pada yang bersangkutan berubah dan target penularan ilmu pada rekan se team work bisa dilakukan . Kondisi ini terjadi karena sebelumnya setiap pengiriman SDM pulangnya nyaris tak berbekas alias yang SDM yang bersangkutan tetap SGA segitu-gitu aja. .

Dan benar perkiraan saya seusai pelatihan dan pulang kampuang ke institusinya bukannya tambah heboh tapi SGA atau segitu-gitu aja .Ia bukan pada taraf mengerti dengan bulat ketika di training malah sedikitpun praktek itu tidak diterapkan . Buktinya masih ada teman seangkatan yang menjadi reporter radio masih saja melakukan kesalahan seperti menyebut nama pejabat dengan menempat kata “pak” sebelum nama . contoh saya pernah mendengar ucapan reporter seperti ini : ….gubernur bali bapak dewa beratha mengatakan……bukankah kalau memberitakan itu nama pejabat tidak pakai Bapak ? he he anak kecil juga tahu ) ….

Kesalahan selanjutnya masih saja ada penyiar yang menganut aliran yayaisme artinya penyiar yang dari awal sampai akhir pasrah dengan nara sumber dengan mengatakan ya , ya ..baik baik..ya ya . dan masih ada penyiar yang belum bisa mengembangkan pertanyaan menjadi sebuah pertanyaan yang menguak fakta. Saya masih melihat penyiar TV senior yang dengan tanpa dosa memotong pembicaraan nara sumber yang sedang menjawab pertanyaan yang ditunggu-tungu masyarakat. Oke mari kita lupakan soal itu memang pada dasaranya kita semua tanpa kecuali sedang dalam PROSES BELAJAR TANPA AKHIR jadi mari kita belajar tanpa berpikir kita sudah ahli saya belum ahli .Kita semua sama sedang di uji dari sisi profesionlismenya. Jadi ilmu apapun harus di dipelajari semasa itu memperlancar derajat kita sebagai awak radio. Mari kita diskusikan soal ilmu yang harus kita pungut dari dasar sekali dari sumber ALAM yang kita miliki lho kok bisa ? memang tambang minyak apa!.he he he . Tapi tetap saya punya pikiran positip inilah seninya dunia siaran ,jadi semua menunggu seleksi alam. De ngadanin awak bise Depang anake ngadanin. Artinya jangan mengatakan diri kita bisa /mampu biarkan orang lain yang mengatakan . Itulah pepatah asli Bali yang kesohor. (Bram Wijaya0






0 komentar:

 
Powered by Blogger