Photobucket
Dengar dan Saksikan siaran saya di Web ini setiap hari pukul 10-12.Dalam acara Bisnis Global kami hadirkan info bisnis aktual, kisah sukses ,motivasi enterpreneur dan info inspiratif lainnya. Bila Anda ingin Menghubungi kami , kontak ke no HP 08123945684, Pin BB 74E96D53 Whatsapp : +6289654775541 Wechat : +6289654775541 FB : @bramwijayabali

Minggu, 13 Juli 2008

STANDARD SIARAN PERLUKAH

Saya sering ditanya bagaimana sih siaran yang baik ,saya singkat saja menjawab meniru dan belajar serta makanlah dengan lahap yang namanya jam terbang . Meniru bisa melalui gaya dan cara penyiar idola anda setelah proses itu sudah terbentuk ciptakan ciri khas anda sendiri. Bagaimana gaya dan cara kita siaran punya ciri khas hanya pendengar kita yang tahu . Nah berkaitan dengan ciri khas alangkah lebih bagus kalau ciri khas bisa terbentuk secara kroyokan atau team

Walaupun pendengar yang lebih tahu bahwa kita punya ciri khas namun indikasinya bisa kita lihat bila ada pendengar yang sudah mulai susah membedakan mana penyiar yang namanya si Anu dan Si Ini . Karena vokal dan gaya nya sama bikin pendengar salah sebut ketika interaktif ..ini mbak anu ya ..bukan saya mbak ini .

Kita sepakat menyebutkan ini sebagai sebuah Standard Siaran Radio .Dan saya pikir masing-masing radio harus punya standard siaran . Kalau tidak ada standard akan terjadi kondisi seperti . Penyiar yang namanya A kalau siaran gampang banget ditebak dari lagunya pasti dari aliran ini . lalu penyiar B kalau siaran seleranya yang bernuansa rancak . Standard tidak melulu ngurusi lagu atau cara kita bicara tetapi menyangkiut sistim kerja ,tehnis penanganan problem solving bila itu terjadi ketika siaran.

Pernah saya mendengar seorang penyiar ketika interaktif dengan pendengarnya ia terpancing untuk ikut beropini.dan parahnya opininya dangkal . Siapa yang malu !. Jadi memang yang namanya siaran standardnya tidak boleh beropini . Lalu bagaiman caranya kalau kita diminati pendapat oleh pendengar ketika diudara. Jawab saja pendapat saya tidak penting ,pendapat anda lebih penting gampang khan. Lalu ada juga pertanyaan entar kalau kita mengeluarkan pendapat nanti dikira penyiar bodoh. Justru kebalikannya kita akan dianggap penyiar tidak tahu aturan.. Sampai sekarang saya masih punya teman satu team yang bandel suka beropini dan mulutnya gatel mengeluarkan pendapat tentang umpanya politik . Akhirnya SMS dan Telpon berdering yang mengira bahwa penyiar kita ini memihak salah satu kandidat cagub ,Nah lho . Padahal penyiar khan mutlak netral .

Terlepas dari itu semua saya pernah diajak ngobrol sama pendengar .
Pendengar itu tanya kenapa kemampuan presenter beda-beda ada yang baik sekali dan ada yang buruk , pertanyaan lain kenapa Radio A gayanya dan kualitasnya sama baik cara membaca berita ,wawancara ,sikap tersebut melahirkan suatu karakter yang khas . Kita sepakat bahwa jawaban dari itu semua adalah adanya standard yang ditaati atas dasar sebuah kesepakatan bersama . Standard siaran tidak mencari sebuah kata persis tapi mengatur agar mirip. Sebab persis yang artinya 100 persen sama itu tidaklah mungkin terjadi , sedangkan mirip adalah mendekati persis. Pendekatan persis inilah yang kita perjuangkan .Walaupun mendekati persis terkesan menjadi sama, itulah pentingnya standard. Itu baru standard fisik bagaimana dengan standard yang non fisik seperti sikap mental apakah harus diatur standardnya ?. Urusan sikap mental adalah menyangkut niat masing-masing individu secara pribadi tapi karena radio sebagai media publik maka perlu di bangun sebuah perjuangan untuk menyamakan persepsi visi dan misi . kita harsu asah kecerdasan intuisi melalui ketekunan berlatih dan niat besar melalui proses jam terbang bagi Penyiar , Yang harus kita raih adalah Penyiar Radio mempunyai standard kemampuan /kecerdasan yang sama secara team . Soal kecerdasan banyak cara untuk memulai . Memulai dari awal perekrutan kriteria penyiar seperti apa yang dipilih . Dan memberi kesempatan pada acara-acara yang “Angker” .jangan sampai acara angker hanya untuk penyiar yang sudah piawai saja .

Kiriman Adi Iswara (Denpasar)


Adi Makasih kiriman artikelnya saya tunggu yg lain



0 komentar:

 
Powered by Blogger